Pendengaran Anak dan Pandemi

0
509

Oleh dr. Agaprita Eunike Sirait

Tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day, WHD). Menurut Ketua Panitia WHD Indonesia 2021, dr. Ronny Suwento, Sp.T.H.T.K.L(K), peringatan ini dilakukan setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan gangguan pendengaran dan ketulian, juga mempromosikan perawatan kesehatan telinga serta pendengaran secara global, termasuk di Indonesia.

Tahun ini WHD diperingati di tengah pandemi COVID-19. Pandemi memiliki dampak di berbagai aspek kehidupan, lintas generasi. Anak-anak, meski menurut data pada bulan Februari secara kuantitatif “hanya” 12% dari keseluruhan kasus positif dan pada umumnya mengalami gejala yang ringan, berpotensi mengalami gangguan dalam kesejahteraan psikososial akibat berkurangnya aktivitas sosial dengan teman sebaya atau dengan guru di PAUD atau sekolah. Efek negatif ini jika diakumulasikan juga menjadi faktor risiko gangguan perkembangan bagi anak.

Gelombang buntut pandemi dirasakan juga oleh sekitar 3,4 juta atau 1,9% anak dengan gangguan pendengaran di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Penelitian terbaru pada 45 anak di Kanada dengan implan koklea yang diterbitkan oleh Journal of American Medical Association (JAMA) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang jelas antara lockdown akibat COVID-19 dengan menurunnya akses anak terhadap komunikasi lisan. Ketika masa pandemi, terjadi penurunan perbandingan antara waktu eksposur bicara dengan waktu senyap dari 1,6:1,0 sebelum masa pandemi menjadi 0,9:1,0. Penurunan terbesar dalam persentase bicara terjadi pada anak usia sekolah, terutama pada anak usia sekolah dasar mencapai 12,32%. Peningkatan waktu senyap paling tinggi, hingga 10,64% atau 1 jam per hari, terjadi pada anak dengan jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit (0-3 orang).

Anak-anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan gawai selama masa pandemi. Pembelajaran jarak jauh bagi anak usia sekolah pun membutuhkan gawai. Meningkatnya screen time pada anak dapat dilihat sebagai salah satu faktor utama menurunnya eksposur bahasa atau percakapan secara langsung pada anak. Penggunaan gawai secara berlebihan perlu menjadi perhatian karena terbukti berhubungan dengan gangguan dalam berbahasa, serta dalam perkembangan komunikasi. Suatu riset pada anak di Kanada menyatakan bahwa anak berusia 18 bulan rata-rata menggunakan gawai selama 28 menit. Menggunakan alat skrining untuk keterlambatan bicara, peneliti mendapatkan setiap tambahan 30 menit penggunaan gawai menyebabkan peningkatan 49% risiko keterlambatan bicara ekspresif. Menurut rekomendasi dari American Academy of Pediatrics, tidak ada  screen time untuk anak di bawah usia 24 bulan kecuali untuk aktivitas video chatting, sedangkan untuk anak usia dua hingga lima tahun diperbolehkan hanya di bawah satu jam.

Anak dengan gangguan pendengaran yang terlibat lebih banyak dalam percakapan menunjukkan hasil linguistik yang lebih kuat dibandingkan dengan anak yang terlibat lebih sedikit dalam percakapan. Frekuensi interaksi ini menurun pada lingkungan rumah dengan tingkat eksposur media elektronik atau gawai yang tinggi. Hal ini dapat diakibatkan distraksi audiovisual (misal dari televisi), penurunan kemampuan anak untuk mempertahankan fokus dalam melakukan aktivitas, serta orang tua yang kurang responsif pada anak akibat sibuk dengan gawainya. Kegiatan dengan gawai juga menggantikan aktivitas seperti membaca buku, yang kaya akan kosa kata untuk membangun kemampuan literasi dan linguistik anak.

Turunnya waktu eksposur bicara pada anak selama masa lockdown akibat COVID-19 menimbukan beberapa kekhawatiran. Lewat berbagai metode untuk mengukur eksposur bicara pada anak, turunnya 1 jam waktu bicara sama artinya dengan anak tidak mendengar 600 hingga 2000 kata per hari, atau dalam percakapan sekitar 100 hingga 400 kata per jam. Interaksi dalam berbicara penting dalam perkembangan dan mempertahankan area linguistik di otak, juga skor bahasa ekspresif anak. Terlebih pada anak dengan gangguan pendengaran, berkurangnya eksposur bahasa dapat bermanifestasi dalam masalah komunikasi dan kemampuan literasi.

Komunikasi merupakan aktivitas sosial yang berbasis pada partisipasi dan mutualitas, serta berdasar pada interaksi untuk berbagi pengalaman, perasaan dan kegiatan. Komunikasi adalah suatu kemampuan vital yang harus menjadi prioritas dalam mengasah perkembangan anak. Konsep yang juga berhubungan dengan komunikasi adalah literasi. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, namun aspek komunikasi seperti kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan apa yang orang lain katakan juga termasuk di dalamnya. Kapasitas untuk mengekspresikan perasaan, pemikiran dan preferensi butuh komunikasi yang terkembang dengan baik serta perbendaharaan bahasa yang kaya. Dewasa yang memiliki kompetensi literasi yang lebih baik lebih mungkin memiliki pendapatan yang lebih tinggi, prospek pekerjaan yang lebih baik, risiko gangguan mental yang lebih rendah, serta tingkat kesehatan yang lebih baik.

Anak dengan gangguan pendengaran memiliki kemampuan literasi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak normal. Bahkan, 44% dari anak dengan implan koklea yang lulus dari sekolah menengah atas hanya memiliki kemampuan membaca setara anak sekolah dasar. Hal ini terkait dengan kesulitan pengenalan akan ucapan yang menyebabkan anak mengalami defisit kesadaran fonologis. Selain itu, anak dengan implan koklea juga cenderung memiliki perbendaharaan kosa kata ekspresif dan reseptif yang lebih rendah dibandingkan dengan anak normal, serta kemampuan bahasa oral yang lebih rendah.

Anak belajar mengenai bahasa lebih banyak dalam konteks sosial. Di tengah pandemi, aktivitas sosial secara tatap muka harus dibatasi demi mengurangi penyebaran virus. Aktivitas belajar bahasa lewat percakapan dengan teman sebaya, tidak bisa dilakukan lagi. Alhasil, peran serta orang tua atau pengasuh dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak dibutuhkan secara lebih intensif dibandingkan masa sebelum pandemi. Lingkungan literasi di rumah yang baik, ditunjukkan dengan aktivitas terkait literasi seperti orangtua yang senang membaca, mengajarkan huruf dan lafal kepada anak, memiliki buku di rumah, dapat memitigasi dampak negatif dari gangguan pendengaran dalam keterampilan literasi dini anak. Membacakan buku kepada anak merupakan elemen sederhana terpenting dari menciptakan lingkungan literasi di rumah. Riset menunjukkan bahwa membacakan buku pada anak dimulai sebelum usia enam bulan berkontribusi dalam lingkungan literasi di rumah dan memiliki manfaat bagi perkembangan linguistik anak.

Akses auditori yang inkosisten pada anak dengan gangguan pendengaran menyebabkan kebutuhan eksposur terhadap input linguistik lebih tinggi dibandingkan anak tanpa gangguan pendengaran. Anak dengan gangguan pendengaran juga mengalami kesulitan dalam mengakses input linguistik ketika sumber suara berada di jarak yang jauh. Oleh karena itu, lingkungan belajar bahasa yang optimal untuk anak dengan gangguan pendengaran adalah dengan meningkatkan frekuensi interaksi lingustik antara anak dan orangtua atau pengasuh secara dekat dan langsung.

COVID-19 menjadi tantangan tersendiri bagi anak dengan gangguan pendengaran beserta keluarganya. Orangtua atau pengasuh yang aktif dan responsif menjadi kunci penting bagi perkembangan anak, terutama perkembangan bahasanya. Jangan sampai perkembangan anak menjadi korban dari pandemi. Selamat memperingati Hari Pendengaran Sedunia, selamat meningkatkan interaksi linguistik dengan anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here