Ibadah Ucapan Syukur 36 Tahun Pelayanan GBIS Filadelfia Dumai

0
528

DUMAI,WARTAPENARIAU.com-Ibadah ucapan syukur 36 tahun Pelayanan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) “Jemaat Filadelfia” Dumai, berjalan nyaman dan penuh sukacita, bertempat di Gedung GBIS Filadelfia Jalan Almubin, Kota Dumai, Minggu (31/1/2021),dengan mematuhi Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19.

Pdt. A.Hutabarat dalam kesaksiannya dihadapan jemaat mengatakan, bahwa pada tahun 1973, Tuhan perintahkan ia untuk sekolah Alkitab di Medan. Ia berangkat ke Medan untuk mengikuti sekolah Alkitab. Selama ia sekolah di Medan, istrinya Ibu I.Boru Aritonang  kerja keras di kampung yaitu menderes pohon karet dan bertani untuk menyekolahkannya. Selesai sekolah Alkitab ia praktek di GBIS Jalan Sei. Kera Medan.

Bahwa sekitar bulan Maret tahun 1974, ia diutus pelayanan setiap hari jumat ke daerah Pangkalan Buntu Sidamanik. Pada tahun 1974 berdirilah sebuah jemaat di desa Parmahanan Sidamanik. Tahun 1975, ia diutus ke Pahae Julu untuk melayani jemaat yang terdiri dari 4 jemaat yaitu Sitorang Ari, Hutabarat, Lobu Pining dan Sigokpulon.

“Penyertaan Tuhan nyata dalam pelayanan ada 2 gereja dibangun di Pahae, yaitu di Lobu Pining dan di Hutabarat.Disini saya sangat lelah melayani karena melayani setiap hari kamis sampai minggu malam dengan Medan yang sangat sulit dijangakau sehingga sering harus berjalan kaki, dan adakalanya sering ngantuk dijalan juga sering doa dan puasa,”terang Pdt A.Hutabarat.

Pelayanan di Kota Dumai

Bahwa pada tahun 1984, Pdt.A.Hutabarat meninjau kota Dumai dengan Pdt. R. Tampubolon, ada banyak jiwa yang rindu dilayani. “Saya berdoa kepada Tuhan, jika Tuhan menghendaki kami pindah ke Dumai berikan 2 tanda. Pertama ada tempat tinggal dan pelayanan dan kedua;  jemaat GBIS Pahae julu siap memberangkatkan kami dan selama setahun masih di support jemaat GBIS Pahae Julu, ternyata  Tuhan kabulkan. Maka kami mengambil keputusan untuk berangkat ke Dumai,”terang Pdt A.Hutabarat.

Bahwa pada akhir Januari 1985,keluarga Pdt A.Hutabarat pindah ke Dumai. Setelah tiba di Dumai, keluarga Pdt A.Hutabarat menumpang di rumah keluarga Pdt. SO Simare-mare sambil menunggu rumah selesai dibangun.

“Puji Tuhan akhirnya dibangun rumah ukuran 5 x 8 meter di Jalan Air Bersih Ujung (sekarang sudah menjadi Jalan Almubin No.13), waktu itu lokasi gereja masih sepi dan penduduk masih jarang,”ujar Pdt A.Hutabarat.,

Kemudian pada tanggal 31 ibadah Minggu perdana di Dumai dimulai dengan dihadiri 5 orang, yaitu Pdt A.Hutabarat, isteri dan 3 anak (Elieser (07 tahun), Morris Hutabarat (5 tahun), Susana (3 tahun). Awalnya anak-anak sangat bosan karena hanya pohon-pohon yang kelihatan setiap hari. Masa-masa perintisan sering kali Tuhan kirim berkatnya lewat orang-orang yang digerakkan Tuhan. Beberapa keluarga yang dipakai Tuhan menopang pelayanan masa perintisan antara lain: keluarga H. Nainggolan, Keluarga P. Hutabarat boru Lumban Tobing (Pak Paloma), keluarga L. Sitompul (Jemaat GBIS Duri), Keluarga St. Silaen (Alm). Tuhan memelihara dengan cara yang ajaib.

“Untuk menjangkau  jiwa kami mendoakan dan melayani orang-orang sakit di rumah sakit Pertamina. Natal tahun 1985 kami masih natal sekeluarga, namun tahun 1986 mulai ada jemaat. Selang beberapa lama Tuhan mengirimkan jiwa-jiwa untuk dilayani. Pada tahun 1987 dibangun gereja semi permanen dengan ukuran 6 x 12 meter.  Jemaat semakin bertambah secara khusus anak sekolah minggu,”terangnya.

“Puji Tuhan Gereja semakin bertumbuh dan semakin bertambah. Jemaat awal antara lain keluarga D. Sibarani, Ibu Siagian boru. Sihombing, keluarga H. Nainggolan, Keluarga B. Aritonang (Sekarang sudah menjadi Pendeta dan menggembalakan GBIS Sion), keluarga. R Sidabutar, Keluarga L. Siahaan,”urai Pdt A.Hutabarat.

Lanjutnya, bahwa pada waktu itu banyak anak sekolah minggu sehingga sekalipun masih gereja sederhana dan berukuran kecil, tetapi luar biasa guru sekolah Minggu pada saat itu salah satunya adalah Bapak. S.P. Sinaga (sekarang sudah menjadi Pendeta dan menggembalakan di  GBIS Tanjung Pinang).

“Setiap minggu anak-anak bertambah, bahkan kita membuat natal sekolah minggu diluar gereja. Pada tahun-tahun berikutnya Tuhan juga kirim jiwa-jiwa dan pelayan-pelayan yang sangat berperan dalam perkembangan pelayanan. Diantara mereka yaitu: keluarga TM. Gultom (Sekarang pendeta di GBI Pekanbaru), Keluarga V. Sibarani (Sekarang Pendeta GPPS), keluarga Alm L. Sinaga (sekarang ibu Pendeta di GPT Bundaran),”terangnya.

Bahwa dengan bertambahnya jiwa-jiwa, maka ada kerinduan untuk membangun gereja permanen yang lebih besar. Pada tahun 1999 dimulai peletakan batu pertama dan pembangunan gereja permanen dengan ukuran 10 x 24 meter dimulai tahun 2000.

“Puji Tuhan, Tuhan menggerakkan jemaat dan donatur sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik walaupun tidak selalu berjalan mulus.  Jemaat mendukung dalam doa, tenaga dan dana. Waktu itu ketua pembangunan adalah bapak L. Siahaan dan kepala tukang awal  adalah Alm. Bapak Ponidi dan dilanjutkan oleh bapak. V. Sibarani (Sekarang menjadi Pendeta GPPS) serta memasang keramik bapak. J. Tamba,”ujar Pdt A.Hutabarat.

Lebih lanjut Pdt A.Hutabarat mengatakan, selama pembangunan  jemaat bergantian bergotong royong, sehingga setiap jemaat punya andil dalam pembangunan, bahkan pada waktu pembangunan pondasi juga melibatkan ibu-ibu dan anak-anak. Sangat terasa kerjasama dan kesatuan diantara jemaat.

Bahwa pada waktu itu jalan ke gereja masih jalan tanah yang sulit dijangkau oleh kendaraan yang membawa material, juga lokasi pembangunan adalah tanah rawa yang sangat membutuhkan banyak tanah timbun. Tuhan baik dan selalu buka jalan sehingga pada tahun 2005 Gereja ditahbiskan oleh Ketua BP. Pdt. Drs. Darmo Handoyo.Apt.

Oleh kemurahan Tuhan jemaat semakin bertambah dan beberapa tinggal di Batu  Bintang yang pada waktu itu belum ada angkutan umum sehingga terkendala untuk hadir beribadah. Melihat kondisi tersebut pada Tahun 2006 dibuka pos pelayanan di Jl. Sei Pakning (sekarang batu Bintang) di rumah keluarga M Nainggolan boru. Sinaga dan tahun 2007 menyatakan untuk  mandiri.

Puji Tuhan, Roh Kudus terus berkarya di dalam dan melalui gereja. Tuhan membawa pelayanan ini melewati banyak musim. Ada saat dimana Tuhan ijinkan musim dingin dimana seolah-olah semua tertunda dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Adakalanya Tuhan izinkan musim gugur dimana ada jemaat yang pindah, ada konflik dalam gereja. Tapi juga ada musim semi dan panas dimana ada benih-benih yang bertumbuh dan ada panen jiwa-jiwa.

Ketika melewati musim memang tidak selalu mulus dan tidak langsung dapat  menerima dan mengucap syukur, tetapi ketika sudah melewati Tuhan tunjukkan pengalaman indah dan berharga dan Tuhan nyatakan maksud dan rencananya. Puji Tuhan Tuhan selalu menyertai dalam setiap musim dan dalam setiap musim kita semakin dibawa Tuhan kedalam rencana-Nya.

“Kita menyadari bahwa gereja boleh berdiri bukan karena program manusia, tetapi karena rencana Tuhan. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun kita semakin melihat Tuhan berkarya dengan luar biasa, bahkan Tuhan tetap menjaga gereja dan ajaran tetap seturut dengan kehendak Tuhan. Kehadiran gereja boleh jadi berkat bagi kota Dumai secara khusus bagi gereja-gereja. Kebenaran Firman Allah menjadi suatu pengalaman yang benar-benar nyata,”ujar Pdt A.Hutabarat.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here